Pariangan Desa Terindah di Dunia Versi Budget Travel

Saya tertegun membaca sebuah artikel yang membahas tentang Pariangan Desa Terindah di Dunia versi Budget Travel. Bagaimana tidak, tempat itu berjarak hanya beberapa menit dari kampung istri saya di Simabur dan berulang kali selama ini saya menolak setiap kali diajak pergi kesana. Bayangkan, salah satu desa terindah di dunia hanya selemparan tombak dari kampung istri sendiri dan saya selama ini mengabaikannya!.

pariangan

Nagari Tuo Pariangan

Desa Pariangan, atau lebih tepat disebut dengan Nagari Tuo Pariangan, konon menurut tambo adalah Nagari pertama yang ada di Minangkabau. Terletak di kaki Gunung Marapi, membuat Nagari Tuo Pariangan ini memiliki udara yang bersih dan sangat sejuk.

Kalau Anda menempuh perjalanan dari Bukittinggi, butuh waktu sekitar satu jam untuk sampai ke Nagari Pariangan ini. Sedangkan kalau dari Batusangkar hanya memakan waktu sekitar tiga puluh menit saja.

Artikel di Budget Travel (bisa dibaca diSINI ) tidak memberikan info rinci kenapa Nagari Pariangan layak masuk ke salah satu desa terindah di Dunia. Saya juga yakin apabila Anda membaca artikel itu hanya akan datang ke Nagari Tuo Pariangan saja, seperti gambar di bawah ini. Padahal ada beberapa lokasi di sekitar Pariangan yang wajib didatangi. Nah, berikut saya tuliskan lokasi-lokasi tersebut di blog ini.

masjid-tuo-minangkabau-pariangan

Masjid Tuo Minangkabau

Di Nagari Tuo Pariangan, terdapat sebuah Masjid bernama Masjid Ishlah atau Masjid Tuo Minangkabau. Bangunan Masjid yang besar ini menjadikannya terlihat dominan ditengah perkampungan penduduk. Dengan atap yang berundak bersusun-susun seperti piramida.

Arsitektur asli masjid ini masih dipertahankan meski tetap saja sentuhan modern mau tidak mau turut mewarnai seperti berdirinya sebuah menara tinggi yang terbuat dari beton di samping bangunan Masjid.

pariangan-masjid-tuo-minangkabau

Bagian dalam masjid juga sudah dilengkapi peralatan modern

Di dekat masjid terdapat sebuah Batu Prasasti yang disebut Prasarti Pariangan yang diberi atap untuk melindungi batu prasati dari gerusan hujan. Sayangnya tidak terdapat informasi detail apa yang diceritakan oleh prasasti ini. Tulisan pada batu prasasti ini juga sudah tidak terlihat lagi dengan jelas.

prasasti-pariangan

Sayang tulisannya sudah tidak terbaca

Masih dalam komplek Masjid Tuo Minangkabau, disini terdapat pemandian air panas alami pegunungan yang disebut dengan Rangek Tujuah. Berbeda dengan Pemandian Air Panas Rimbo Panti, pemandian disini tidak berbentuk kolam, melainkan berbentuk pancuran air panas.

pariangan-rangek-tujuah

Yup, tentu saja pemandiannya dipisah lelaki dan perempuan

Di bagian bawah pemandian ini mengalir sebuah sungai yang bernama Batang Bangkaweh. Di sungai ini hidup berbagai jenis ikan, namun tidak boleh ditangkap oleh siapapun. Di Sumatera Barat ada beberapa tempat seperti ini, dimana ikan yang hidup di suatu tempat terlarang untuk diambil. Masyarakat setempat menyebutnya “Ikan Larangan”. Ada denda besar menanti bagi siapa saja yang berani menangkap atau meracuni ikan yang hidup di sungai ini.

desa-pariangan

Salah Satu Sudut Desa Pariangan

Puas mengunjungi Masjid Tuo Minangkabau dan Pemandian Rangek Tujuah, kita akan mendatangi tempat menarik lainnya di Nagari Pariangan yaitu Kuburan Panjang yang merupakan Makam dari Datuak Tantejo Gurhano.

nagari-pariangan

Rumah Penduduk Desa Pariangan

Makam Datuak Tantejo Gurhano ini memiliki luas sekitar 629 meter persegi. Datuak Tantejo Gurhano sendiri merupakan tokoh arsitek pembuatan Balairung Sari Tabek dan beberapa bangunan lain di Nagari Pariangan.

Ukuran kuburannya sangat panjang yaitu 25.5M x 7M sehingga terkenal dengan nama Kuburan Panjang. Nisannya hanya berupa batu kali tanpa olahan. Ada sebuah mitos menarik tentang Kuburan Panjang ini. Konon, apabila kuburan ini diukur oleh pengunjung, panjangnya tidak pernah sama. Percaya atau tidak, tapi mitos inilah yang membuat Kuburan Panjang ini menarik untuk didatangi.

kuburan-panjang-pariangan

Mitosnya, ukuran Makam ini selalu berubah-ubah

“Di atas pemandangannya makin bagus, Da” sapa seorang penduduk yang kebetulan bertemu dengan kami. Dia menyarankan untuk pergi lebih jauh keatas, ke Puncak Aro Tinggi dan Aia Najun. Dia juga menceritakan sedikit tentang Aia Rangkah Batu yang dipercaya penduduk bisa mengobati berbagai macam penyakit.

Desa pariangan

Menuju Puncak Aro Tinggi

Pemandangan indah di samping kiri-kanan berupa sawah dengan bulir padi boneh (gemuk) yang mulai menguning membuat betah berlama-lama memandangi. Meski awan mendung menggayuti di kaki gunung, tidak terlalu menutupi semua keindahan itu.

pariangan-3

Padi Menguning

Nagari Pariangan, tempat dimana adat Minangkabau berkembang pertama kali, adalah desa yang sangat relijius, jadi tidak perlu khawatir apabila masuk waktu sholat, banyak Surau dan Masjid yang bisa Anda singgahi untuk menunaikan ibadah sholat.

musholla-pariangan

Masjid

Satu hal yang patut diacungi jempol adalah sikap penduduknya yang ramah menghadapi pengunjung yang datang. Seringkali setiap berpapasan, mereka akan menyapa dengan senyum.

penduduk-desa-pariangan

Mencari Rumput Untuk Ternak

Setelah beberapa menit berjalan, kami sampai di Aia Rangkah Batu (Batu Retak) yang dipercaya bisa menyembuhkan penyakit. Tampak aliran air dari sela batu yang juga dimanfaatkan oleh penduduk untuk mandi dan berwudhu. Tampak beberapa pengunjung mandi di semacam pancuran sederhana yang dibangun penduduk di samping sebuah masjid.

Saya pikir, khasiat menyembuhkan penyakit dari Aia Rangkah Batu ini karena mengandung banyak mineral-mineral tertentu, apalagi air ini memang mengalir diantara bebatuan gunung.

rangkah-batu-pariangan

Aia Rangkah Batu

Setelah menciduk Aia Rangkah Batu ke dalam sebuah kemasan botol air mineral, kami memutuskan untuk bergegas pergi ke Puncak Aro Tinggi, mengingat gumpalan awan mendung yang semakin berat menggayut di langit. Karena jalan menuju kesana adalah jalan tanah dan sangat licin untuk dilewati ketika basah.

Pariangan Desa Terindah di Dunia

Persawahan Penduduk

Membutuhkan waktu berjalan kaki sekitar 20 menit di jalan setapak yang mendaki, akhirnya kami sampai di Puncak Aro Tinggi Pariangan.

pariangan-4

Menuju Puncak Aro

Menyaksikan dengan mata kepala sendiri pemandangan Puncak Aro dari ketinggian membuat saya mengerti kenapa Pariangan Desa Terindah di Dunia layak mendapat gelar itu. Pemandangan yang asri, natural dan indah terbentang sebagai karunia dan Mahakarya Tuhan untuk ditinggali penduduk Pariangan.

Pariangan Desa Terindah di Dunia

Pemandangan dari Ketinggian

Dari atas, terlihat jelas kota Batusangkar dan Danau Singkarak dengan pemandangan dominan hamparan sawah penduduk yang sedang bewarna keemasan tanda sebentar lagi siap panen.

Pariangan Desa Terindah di Dunia

Yes! Sampai Juga di Desa Terindah

Setelah dari Puncak Aro Tinggi, kami melanjutkan perjalanan ke Aia Najun Pariangan. Jalan-jalan setapak yang sedikit licin dan berbatu tidak menyurutkan niat kami untuk sampai ke Aia Najun. Hanya saja kami kostum yang salah sedikit merepotkan saat melangkah di batu-batu sungai.

pariangan-aia-najun

Jalan Melewati Sungai Berbatu

Aia Najun adalah sebuah Air Terjun yang tidak terlalu tinggi, namun sangat indah. Sejuknya udara dan lembab percikan air yang menerpa wajah membuat segela kepenatan setelah menempuh perjalanan tadi mendadak hilang.

aia-najun-pariangan

Berhasil sampai ke Aia Najun

Setelah puas bermain-main di Aia Najun Pariangan, kami kemudian memutuskan untuk kembali pulang. Semua merasa puas setelah berhasil mengunjungi Pariangan Desa Terindah di Dunia, meski ternyata itu berada di kampung sendiri 🙂

Pariangan Desa Terindah di Dunia

Pariangan Desa Terindah di Duniapa

Kalau foto-foto diatas belum cukup membuat Anda puas, silakan tonton video dibawah ini.

Bagaimana, apakah Anda tertarik mengunjungi Pariangan Desa Terindah di Dunia? Silakan berikan pendapat Anda di kolom komentar ya 🙂

Comments

comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *